MENULIS CERITA DARI LAPANGAN

Menulis itu tidak berbeda seperti kita sedang bercerita  kepada orang lain. Intinya adalah menyampaikan pesan dan gagasan atau mengkomunikasikan cerita yang kita miliki kepada orang lain atau pembaca. Bedanya, menulis menggunakan pena dan kertas. Untuk itu, sebaiknya kita harus menuliskan sebanyak yang kita dapat dari “pengamatan dan wawancara”  di lapangan. Dan  marilah mulai menuliskan “sesuatu” agar dapat diketahui oleh orang kebanyakan tentang temuan-temuan kita, tentang kegelisahan kita.

Prinsip dasar dalam menulis

Dalam membuat tulisan cerita dari lapangan, yang penting untuk diperhatikan adalah:

  • Lugas:  pikiran-pikiran diungkapkan atau dinyatakan dalam kalimat-kalimat yang hanya menyatakan “apa adanya” dan “tidak mengada-ada”, yang menyatakan fakta, tanpa memerlukan kalimat-kalimat yang “nyastra” atau “terkesan indah”. Pilihlah kalimat biasa-biasa saja, bahkan jika mengutip cerita hasil wawancara dari masyarakat, bisa saja dalam bentuk bahasa jawa.
  • Deskriptif:  tulisan sebaiknya berupa uraian yang cukup lengkap tentang fakta-fakta lapangan.  Intinya, tampilkan sajian sedemikian rupa sehingga pembaca mendapat gambaran lengkap mengenai keseluruhan cakupan yang ingin kita sampaikan dan konteknya.
  • Sistematis: semua pokok-pokok pikiran yang dituangkan dalam tulisan itu harus berhubungan satu sama lain secara logis (sesuai nalar).
  • Analisitis: mengurai atau memisah-misah, menggolong-golongkan kembali, menghubungkan, dan menafsirkan (ini dilakukan terus secara siklis).

INGAT……

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menulis:

  • Jelas;
  • ketepatan dan ketelitian;
  • keteraturan dan konsistensi;
  • logis (sesuai penalaran)

Mulailah Menulis

Tulislah apa yang ingin kita tulis. Paling  mudah adalah memulai dari apa yang paling diingat atau yang tertangkap oleh mata kita. Jangan khawatir tulisan tersebut tidak menarik untuk dibaca. Tulis kalimat seperti penyampaian lisan, tanpa mengkhawatirkan teknik penulisan. Dan jangan terbebani dengan aturan “baku” seperti ejaan yang disempurnakan – eyd. (yang penting JELAS).

misalnya begini: ketika aku melintasi pasir-pasir yang dimuntahkan oleh Gunung merapi, aku menemukan wuwungan rumah yang menyembul dari lautan pasir. ach…dimana rumahnya. setelah aku bertemu dengan beberapa warga, ternyata rumah tersebut terkubur oleh material vulkanik.

PEnting untuk diingat  

Dalam menulis cerita dari lapangan, yang tidak boleh diabaikan adalah:

  • Tanggal, waktu, dan lokasi dimana cerita tersebut berada. Ini  menjadi sangat penting khususnya dalam penanganan bencana merapi. Karena kita melakukan pengorganisasian (riset observasi yang berulang) di beberapa lokasi.
  • Ingat dan catatlah: fakta-fakta specifik dan detail. Hal ini menyangkut tentang: siapa yang ada di lokasi kejadian? Apa yang terjadi? Apa menarik perhatian anda?
  • Deskripsikan dari interaksi dan percakapan, secara jelas sesuai apa yang dilihat dan didengarkan;
  • Kalau anda sempat mencatat: coba deskripsikan juga penggunaan isyarat nonverbal, ekspresi wajah dan bahasa tubuh;
  • Jangan lupa, anda sebenarnya seperti melihat gambar dan menjelaskan kepada orang lain tentang gambar tersebut. Maka pertanyaaanya adalah: apa yang anda lihat? Dan bagaimana setting (situasi disekitarnya)?;

Sebagai Tambahan

Kita  bisa  menambahkan dengan interpretasi atau refleksi. Interpretasi ini bersifat subyektif.  Pertanyaan-pertanyaan berikut akan membantu anda menganalisis dan merefleksikan pengamatan Kita:

  • Apa tanggapan Kita , tentang  catatan yang telah Kita buat?
  • Pertanyaan mendasar apa yang Kita peroleh dari proses pengamatan (pengorganisasian) di lapangan?
  • Apakah ada aspek dari peristiwa-persitiwa atau komunitas  yang menggelitik rasa ingin tahu  Kita, sehingga penting untuk memperdalam lebih lanjut?
  • Apa yang membuat Kita heran? Apakah Kita tertarik? Apa  yang membuat Kita tertarik? Apa yang mengganggu pikiran kita?

Tambahan ini, dapat dituliskan menyatu bersama dengan tulisan kita. Atau dibuat terpisah.

Untuk membantu kita dalam menulis, ada beberapa anjuran yang mungkin berguna. Tetapi, kalau sekiranya tidak membantu, abaikan saja! Yang penting mulailah menulis.

Biasanya, bagi kebanyakan orang, sebelum menulis mereka akan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Membuat  kerangka tulisan!

Kerangka tulisan adalah pokok-pokok pikiran yang akan menjadi tulang-tulang dalam tulisan yang akan kita buat. Misalnya, kita akan menuliskan tentang Mitos Gunung Bibi. Kita dapat memulai dengan kerangka seperti ini:

  • Apa bentuk-bentuk kepercayaan masyarakat tentang Gunung Bibi? Ini masih dapat dipecah menjadi kepercayaan sebelum letusan dan setelah letusan.
  • Berapa prosesntase masyarakat yang percaya dan tidak percaya?
  • Dimana posisi gunung bibi berada?
  • Apa yang menjadikan warga sangat percaya tentang gunung Bibi? Mengapa warga masih mempercayai mitos tersebut?
  • Apa yang dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk kepercayaan atas mitos gunung Bibi? (mungkin ada upacara tertentu)
  • Kapan upacara-upacara tersebut dilakukan ?
  • Siapa yang memiliki otoritas dalam menterjemahkan keinginan dan kemauan Gunung Bibi?
  • Bagaimana pelaksanaan upacara dilakukan?

Mungkin kerangka ini dapat ditambah lagi….. dan yang penting untuk diingat adalah prinsip 5 w + 1 h (what, where, why, who, when, how).

INGAT ini hanya anjuran, jika membingungkan… TINGGALKAN SAJA. Yang penting segeralah menulis.

  • Tentukan tema untuk lead

Tema ini penting untuk memandu kita agar tulisan tersebut tidak meloncat ke sana-sini. Sehingga para pembaca menjadi lebih focus, lebih mudah memahami, dan lebih menarik.

  • Membuat isi (tulisan)

Nah, setelah kerangka dan thema sudah kita susun. Tinggal menuliskan isinya. Seperti contoh di atas, kita tinggal menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan fakta-fakta lapangan.

Tambahan File Tulisan

Agar tulisan yang kita buat menjadi lebih merarik, maka sebaiknya perlu untuk dilakukan hal-hal sebagai berikut:

  • Sertakan foto-foto yang terkait dengan tulisan, dan jangan lupa memberi keterangan dalam tulisan.
  • Jangan lupa juga foto yang menjadi sumber dari tulisan tersebut. Gunanya agar pembaca lebih mengerti dan terlibat secara emosi dengan tulisan.  Foto jangan berbeda dengan thema tulisan.
  • Foto yang dikirimkan cukup 2 atau 3 foto dengan kualitas yang cukup bagus. Bisa foto kegiatan tersebut berlangsung, foto narasumber dalam tulisan tersebut atau foto kegiatan yang menggambarkan sebelum, sedang dan sesudah kegiatan berlangsung.
  • Jangan lupa selalu menuliskan nama penulis disertai posisinya.

Tunggu apa lagi….

marilah kita mulai menulis tentang kenyataan-kenyataan. dan proklamirkan hasil tulisan anda melalui jalan apa saja.

rhd

One response to “MENULIS CERITA DARI LAPANGAN

  1. makasih bung tanggapannya. aku sendiri suka gaya bebas, maka dibeberapa tulisan aku sisipkan: kalau aturan ini memberatkan tinggalkan saja. yang penting menulis.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s